Human Error sebagai Risiko Operasional dalam Layanan Perbankan

Beritakamera.com | Di tengah pesatnya perkembangan teknologi perbankan risiko operasional tetap menjadi perhatian utama, khususnya yang bersumber dari kesalahan manusia atau human error. Dalam praktiknya, peran sumber daya manusia masih sangat dominan, terutama pada posisi teller yang berinteraksi langsung dengan nasabah. Hal ini membuat potensi kesalahan tetap ada meskipun sistem digital semakin berkembang. Menurut Otoritas Jasa Keuangan, risiko operasional dapat muncul akibat kegagalan proses internal termasuk kesalahan yang dilakukan oleh karyawan.

Human error dalam perbankan umumnya terjadi karena beberapa faktor seperti kurangnya ketelitian, kelelahan kerja, serta kurangnya pemahaman terhadap prosedur operasional standar. Selain itu, tekanan kerja yang tinggi dan lingkungan kerja yang kurang mendukung juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan. James Heizer menjelaskan bahwa kesalahan operasional sering kali dipengaruhi oleh faktor manusia, terutama dalam kondisi kerja yang padat dan tidak seimbang.

Dampak dari human error pada teller tidak hanya dirasakan secara langsung oleh nasabah, tetapi juga dapat memengaruhi kinerja bank secara keseluruhan. Kesalahan transaksi dapat menurunkan kepercayaan nasabah, meningkatkan jumlah komplain, serta menambah beban operasional dalam proses perbaikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Frederic S. Mishkin yang menyatakan bahwa kepercayaan merupakan faktor utama dalam menjaga stabilitas perbankan.

Untuk mengurangi risiko tersebut, bank perlu melakukan pengelolaan sumber daya manusia secara optimal. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain pengaturan jadwal kerja yang seimbang, pemberian waktu istirahat yang cukup, serta pelatihan untuk meningkatkan ketelitian dan pemahaman prosedur kerja. Selain itu, pengawasan internal dan evaluasi kinerja secara berkala juga penting untuk memastikan bahwa aktivitas teller berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan, sebagaimana dianjurkan oleh Bank Indonesia.

Dengan pendekatan yang lebih terintegrasi antara manusia, sistem, dan pengawasan, risiko human error dapat ditekan secara signifikan. Pada akhirnya, kualitas layanan dapat terus ditingkatkan dan kepercayaan nasabah tetap terjaga di tengah dinamika industri perbankan yang semakin kompleks.

 

REFERENSI

  1. Otoritas Jasa Keuangan. (2016). Manajemen Risiko Perbankan.
  2. Bank Indonesia. (2011). Penerapan Manajemen Risiko pada Bank Umum.
  3. James Heizer & Barry Render. (2015). Operations Management. Pearson.
  4. Frederic S. Mishkin. (2019). The Economics of Money, Banking, and Financial Markets.